Makna hikmah dari sebagian ulama
Berfirman allah swt. يؤتي الحكمة
من يشاء و من يؤت الحكمة فقد أوتى خيرا كثيرا (البقرة اية) ٢٦٩
Allah berikan hikmah kepada org yg dia kehendaki, dan siapa yg telah diberikan hikmah kepada nya sungguh dia telah di bari kebaikan yg banyak.
Rasulullah saw bersabda: tidak lah membari hadiah seorg muslim kepada saudara nya suatu hadiah yg terlebih utama daripada kalimah hikmah . Menambah dia bagi saudara nya kebaikan atau menengah akan dia dari kejahatan.
Dan didalam hadits yg lain rasulullah saw bersabda :
Tidak boleh iri ssorg melainkan kepada dua org. Ssorg yg allah berikan kepada nya harta mak dia gunakan harta itu kepada yg benar dan ssorg yg di bari dia akan hikmah maka dia TUNAI kan dan dia amalkn hikmah itu dan dia ajarkan .
Imam nawawi berkata.. makna hadis di atas : gibtah yg di sukai ada dua . Dan seterusnya makna hadist di atas .
Hikmah : adalah tiap" Barang yg mencegah dari kejahilan dan menegah dari perbuatan buruk .
Dan imam abu bakar bin duairi mengatakan Hikmah adalah tiap" kalimat yg menasihati akan kamu dan menegah akan kamu dari maksiat dan yg mengajak kamu kepada kemulian menulak kamu dari kejahatan . Itulah hikmah
Dan berkata Ibnu qutaibah. Hikmah itu adalah ilmu dan amal . Dan tidak lah seseorg itu mempunyai hikmah melainkan terkumpul padanya akan kedua nya.
Di riwayatkan dari imam sya'rani di dalam kitab tambih imam abu Hasan Al harawi berkata.
Akan Terbit hikmah itu kerna empat bagian .
. Menyesal kerna dosa
. Bersiap" untuk kematian
. Didalam lapar perut
. Berteman org" Zhuhud terhadap dunia.
Adalah yahya bin muaz berkata turun hikmah itu dari langit(sebuah perumpamaan) dan tidak akan turun atas hati yg padanya ada empat macam ini.
. Org yg lebih mengutamakan dunia
. Org yg menanggung kehinaan
. Org yg iri dan dengki
. Cinta kemulian diantara manusia.
Barangsiapa ada baginya salah satu dari ini maka tidak akan masuk hikmah kedalam hati nya
Berkata abu Utsman al hirati barangsiapa memakmurkan diri nya dangan sunah. Baik perkataan atau perbuatan niscaya dia Berkata dangan hikmah. Dan berang siapa yg memakmurkan diri nya dangan ke hendaknya niscaya ia akan bertutur dangan bid'ah
Sedikit dari makna hikmah yg saya ambil dari kitab minhajus sawi halaman hlm 327
Selamat membaca... dan selamat menunaikan ibadah puasa.. 15 ramadhan 1437
Berfirman allah swt. يؤتي الحكمة
من يشاء و من يؤت الحكمة فقد أوتى خيرا كثيرا (البقرة اية) ٢٦٩
Allah berikan hikmah kepada org yg dia kehendaki, dan siapa yg telah diberikan hikmah kepada nya sungguh dia telah di bari kebaikan yg banyak.
Rasulullah saw bersabda: tidak lah membari hadiah seorg muslim kepada saudara nya suatu hadiah yg terlebih utama daripada kalimah hikmah . Menambah dia bagi saudara nya kebaikan atau menengah akan dia dari kejahatan.
Dan didalam hadits yg lain rasulullah saw bersabda :
Tidak boleh iri ssorg melainkan kepada dua org. Ssorg yg allah berikan kepada nya harta mak dia gunakan harta itu kepada yg benar dan ssorg yg di bari dia akan hikmah maka dia TUNAI kan dan dia amalkn hikmah itu dan dia ajarkan .
Imam nawawi berkata.. makna hadis di atas : gibtah yg di sukai ada dua . Dan seterusnya makna hadist di atas .
Hikmah : adalah tiap" Barang yg mencegah dari kejahilan dan menegah dari perbuatan buruk .
Dan imam abu bakar bin duairi mengatakan Hikmah adalah tiap" kalimat yg menasihati akan kamu dan menegah akan kamu dari maksiat dan yg mengajak kamu kepada kemulian menulak kamu dari kejahatan . Itulah hikmah
Dan berkata Ibnu qutaibah. Hikmah itu adalah ilmu dan amal . Dan tidak lah seseorg itu mempunyai hikmah melainkan terkumpul padanya akan kedua nya.
Di riwayatkan dari imam sya'rani di dalam kitab tambih imam abu Hasan Al harawi berkata.
Akan Terbit hikmah itu kerna empat bagian .
. Menyesal kerna dosa
. Bersiap" untuk kematian
. Didalam lapar perut
. Berteman org" Zhuhud terhadap dunia.
Adalah yahya bin muaz berkata turun hikmah itu dari langit(sebuah perumpamaan) dan tidak akan turun atas hati yg padanya ada empat macam ini.
. Org yg lebih mengutamakan dunia
. Org yg menanggung kehinaan
. Org yg iri dan dengki
. Cinta kemulian diantara manusia.
Barangsiapa ada baginya salah satu dari ini maka tidak akan masuk hikmah kedalam hati nya
Berkata abu Utsman al hirati barangsiapa memakmurkan diri nya dangan sunah. Baik perkataan atau perbuatan niscaya dia Berkata dangan hikmah. Dan berang siapa yg memakmurkan diri nya dangan ke hendaknya niscaya ia akan bertutur dangan bid'ah
Sedikit dari makna hikmah yg saya ambil dari kitab minhajus sawi halaman hlm 327
Selamat membaca... dan selamat menunaikan ibadah puasa.. 15 ramadhan 1437


Sebuah kebaikan yg di tunggu
BalasHapusInformasi tambahan :
BalasHapusSayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki Tentang Maulid (1)
Ditulis oleh orgawam di/pada Juni 22, 2008
Berikut kami temukan kitab terjemah dari karangan al-‘Allamah asy-Syaikh as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Hasani berjudul “Holal Ihtefaal Bezikra-al Moulidin Nabawee al-Shareef”
(حول الاحتفال بذكرى المولد)
Dari sumber di sini: http://al-fanshuri.blogspot.com/
Tulisan asli di web sumber ada berjilid-jilid. Tulisan sangat panjang, maka berkonsentrasilah.
Sekitar Peringatan Maulid Nabi Yang Mulia صلى الله عليه وسلم
Mengapa Kita Memperingati Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم?
Banyak pendapat telah disuarakan dari segi hukum mengenai memperingati maulid junjungan kita Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Bagaimana pun tidaklah menjadi tujuan saya yang utama untuk membahaskan soal ini, karena apa yang sering saya fikirkan dan difikirkan oleh para cendikiawan, adalah mengenai masalah-masalah yang jauh lebih penting daripada perkara ini. Tetapi oleh karena desakan para shahabat yang ingin mengetahui pendapat saya dalam hal ini dan karena saya takut terdiri dalam golongan mereka yang menyembunyikan ilmu pengetahuan, maka saya menuliskan risalah ini dengan harapan agar Allah Ta’ala mengarahkan kita semua ke jalan yang benar. آمين
Sebelum saya membentangkan dalil-dalil saya mengenai mengadakan sambutan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم, saya suka menjelaskan di sini beberapa perkara:-
Pertama: Kami mengatakan harus memperingati maulid baginda صلى الله عليه وسلم dan harus berkumpul untuk mendengar sirah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, bershalawat kepadanya, mendengar qasidah-qasidah yang memujinya, mengadakan jamuan makan, yang mana semua ini akan menimbulkan kegembiraan dan ketenangan di hati sanubari kaum muslimin.
Kedua: Kami tidak mengatakan sunnah memperingati maulid baginda صلى الله عليه وسلم, pada malam tertentu sahaja, malah siapa yang mengi’tiqadkan sedemikian, sebenarnya dia telah membuat satu bid’ah didalam agama. Sebab mengingati dan menghayati sejarah صلى الله عليه وسلم itu adalah wajib dilakukan pada setiap waktu dan masa dengan sepenuh jiwa.
Memang benar, memperingati maulid baginda صلى الله عليه وسلم pada bulan keputeraannya merupakan seruan yang lebih kuat dalam mengumpulkan lebih ramai umat Islam untuk menghadiri majlis-majlis tersebut. Ini akan meninggikan lagi syiar Islam, menghubungkan kisah-kisah zaman dahulu dengan zaman kini, dan mendatangkan manfaat bagi mereka yang tidak hadir daripada mereka yang hadir.
Ketiga: Kumpulan-kumpulan seperti ini merupakan satu perantaraan dan peluang emas untuk berdakwah. Kesempatan ini harus tidak diabaikan, terutama sekali apabila menjadi satu kewajipan bagi para pendakwah dan para ulama untuk mengingatkan umat Islam tentang riwayat hidup Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mengenalkan mereka tentang akhlaq, pergaulan, ibadah baginda serta mengajak mereka kepada kebaikan, dan menjauhkan diri mereka daripada bencana, bid’ah dan fitnah.
Sangat bermanfaat
HapusDalil-dalil Yang Mengharuskan Memperingati Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم
BalasHapusDalil Pertama
Bahawa memperingati maulid Nabi صلى الله عليه وسلم, melambangkan satu kegembiraan dan kebahagiaan terhadap junjungan kita Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Malah orang kafir (abu Lahab) juga mendapat manfaat dengan kegembiraan ini.(1)
Telah disebutkan di dalam kitab al-Bukhari, bahawa Abu Lahab telah diringankan siksaannya pada tiap-tiap hari Itsnin karena ia telah membebaskan hambanya Tsuwaibah, apabila hambanya itu membawa khabar akan keputeraan Nabi صلى الله عليه وسلم.
Hal ini juga diterangkan dalam sebuah syair al-Hafiz Syamsuddin Muhammad Nasiruddin ad-Dimasyqi:-
إِذَكَانَ هَذَا كَافؤرًا جَاءَ ذَمُّهُ * بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِيْ الجَحِيْمِ مُخَلَّدًا
أَتَى أَنَّهُ فِيْ يَوْمٍ الإِثْنَيْنِ دَائِمًا * يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَا
فَمَا الظَّمُّ بِالعَبْدِ الذَّيْ كَانَ عُمْرُهُ * بِاَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا
Artinya:
Jikalau sikafir ini (Abu Lahab) yang telah datang cercaan Allah kepadanya (di dalam surah al-Masad) dan celakalah kedua tangannya didalam neraka selama-lamanya
Telah datang (khabar) sesungguhnya dia pada setiap Isnin sentiasa diringankan (azab siksa) darinya karena kegembiraan dengan kelahiran Muhammad (صلى الله عليه وسلم)
Maka tidak syak lagi, bagi seorang hamba yang sepanjang hayatnya bergembira dengan Muhammad (صلى الله عليه وسلم) dan mati dalam keadaan mengesakan Allah (sudah tentu mendapat kelebihan melebihi daripada apa yang dikurniakan kepada Abu Lahab)
Kisah ini diriwayatkan didalam Shahih al-Bukhari, bab nikah dan dinukilkan oleh Ibn Hajar di dalam kitabnya al-Fath. Juga diriwayatkan oleh Imam Abdurrazak as-San’ani didalam kitabnya al-Musannaf (jilid 7 mukasurat 478), al-Hafiz didalam kitabnya al-Dala’il, Ibn Katsir di dalam kitabnya, al-Bidayah bab as-Sirah an-Nabawiyyah (jilid 1 mukasurat 224). Ibn ad-Daiba asy-Syaibani didalam kitabnya Hada’iq al-Anwar (jilid 1, mukasurat 134), Imam Hafiz al-Baghawi didalam kitabnya Syarah Sunnah (jilid 9 mukasurat 76), Ibn Hisyam dan as-Suhaili didalam al-Raudh al-Unuf (jilid 5 mukasurat 192), al-Amiri didalam kitabnya Bahjatul Mahaafil (jilid 1 mukasurat 41).
Imam al-Baihaqi berkata, bahawa walaupun hadits ini hadits mursal, tetapi ia boleh diterima karena telah dinaqalkan oleh Imam al-Bukhari hadits ini di dalam kitabnya. Para ulama yang telah disebutkan tadi, juga sependapat menerima hadits ini karena perkara itu terdiri dari bab manaqib dan khosois (keistimewaan), fadhoil (kelebihan) dan bukannya perkara berkaitan hal hukum halal dan haram. Para penuntut ilmu agama tentu sekali tahu perbezaan istidlal (pengambilan dalil) dengan hadits pada bab manaqib atau ahkam.
Berkenaan dengan manfaat seorang kafir daripada amal perbuatannya sendiri, banyak ulama telah membahaskannya. Tetapi tidak dapat saya terangkan sepenuhnya disini. Asalnya adalah apa yang disebutkan di dalam kitab al-Bukhari berkenaan dengan Abu Thalib mendapat keringanan siksa disebabkan doa Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Dalil Kedua
Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri memuliakan maulidnya, dan bersyukur kepada Allah Ta’ala pada maulidnya, diatas nikmat dan kelebihan yang besar yang telah diberikan Allah ke atas wujudnya di alam semesta ini, yang membawa kebahagiaan pula kepada segala yang maujud diatas mukabumi ini.
Baginda صلى الله عليه وسلم memuliakan maulidnya juga dengan berpuasa. Hal ini diterangkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah:
أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الإِثْنَيْنِ، فَقَالَ: فِيْهِ وُلِدْتُ، وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ (رواه الإمام مسلم في الصحيح في كتاب الصيام)
Artinya: Nabi صلى الله عليه وسلم pernah ditanya akan sebab baginda berpuasa pada hari Itsnin. Baginda menjawab: Pada hari itu aku diputerakan, dan pada hari itu juga wahyu turun kepadaku.” (Hadits riwayat Muslim; Bab Puasa)(2)
Ini jelas menunjukkan bahawa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah menyambut maulidnya. Cuma bentuknya sahaja berlainan, namum haqiqatnya sama,
Dalil-dalil Yang Mengharuskan Memperingati Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم
BalasHapusDalil Pertama
Bahawa memperingati maulid Nabi صلى الله عليه وسلم, melambangkan satu kegembiraan dan kebahagiaan terhadap junjungan kita Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Malah orang kafir (abu Lahab) juga mendapat manfaat dengan kegembiraan ini.(1)
Telah disebutkan di dalam kitab al-Bukhari, bahawa Abu Lahab telah diringankan siksaannya pada tiap-tiap hari Itsnin karena ia telah membebaskan hambanya Tsuwaibah, apabila hambanya itu membawa khabar akan keputeraan Nabi صلى الله عليه وسلم.
Hal ini juga diterangkan dalam sebuah syair al-Hafiz Syamsuddin Muhammad Nasiruddin ad-Dimasyqi:-
إِذَكَانَ هَذَا كَافؤرًا جَاءَ ذَمُّهُ * بِتَبَّتْ يَدَاهُ فِيْ الجَحِيْمِ مُخَلَّدًا
أَتَى أَنَّهُ فِيْ يَوْمٍ الإِثْنَيْنِ دَائِمًا * يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّرُوْرِ بِأَحْمَدَا
فَمَا الظَّمُّ بِالعَبْدِ الذَّيْ كَانَ عُمْرُهُ * بِاَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّدَا
Artinya:
Jikalau sikafir ini (Abu Lahab) yang telah datang cercaan Allah kepadanya (di dalam surah al-Masad) dan celakalah kedua tangannya didalam neraka selama-lamanya
Telah datang (khabar) sesungguhnya dia pada setiap Isnin sentiasa diringankan (azab siksa) darinya karena kegembiraan dengan kelahiran Muhammad (صلى الله عليه وسلم)
Maka tidak syak lagi, bagi seorang hamba yang sepanjang hayatnya bergembira dengan Muhammad (صلى الله عليه وسلم) dan mati dalam keadaan mengesakan Allah (sudah tentu mendapat kelebihan melebihi daripada apa yang dikurniakan kepada Abu Lahab)
Kisah ini diriwayatkan didalam Shahih al-Bukhari, bab nikah dan dinukilkan oleh Ibn Hajar di dalam kitabnya al-Fath. Juga diriwayatkan oleh Imam Abdurrazak as-San’ani didalam kitabnya al-Musannaf (jilid 7 mukasurat 478), al-Hafiz didalam kitabnya al-Dala’il, Ibn Katsir di dalam kitabnya, al-Bidayah bab as-Sirah an-Nabawiyyah (jilid 1 mukasurat 224). Ibn ad-Daiba asy-Syaibani didalam kitabnya Hada’iq al-Anwar (jilid 1, mukasurat 134), Imam Hafiz al-Baghawi didalam kitabnya Syarah Sunnah (jilid 9 mukasurat 76), Ibn Hisyam dan as-Suhaili didalam al-Raudh al-Unuf (jilid 5 mukasurat 192), al-Amiri didalam kitabnya Bahjatul Mahaafil (jilid 1 mukasurat 41).
Imam al-Baihaqi berkata, bahawa walaupun hadits ini hadits mursal, tetapi ia boleh diterima karena telah dinaqalkan oleh Imam al-Bukhari hadits ini di dalam kitabnya. Para ulama yang telah disebutkan tadi, juga sependapat menerima hadits ini karena perkara itu terdiri dari bab manaqib dan khosois (keistimewaan), fadhoil (kelebihan) dan bukannya perkara berkaitan hal hukum halal dan haram. Para penuntut ilmu agama tentu sekali tahu perbezaan istidlal (pengambilan dalil) dengan hadits pada bab manaqib atau ahkam.
Berkenaan dengan manfaat seorang kafir daripada amal perbuatannya sendiri, banyak ulama telah membahaskannya. Tetapi tidak dapat saya terangkan sepenuhnya disini. Asalnya adalah apa yang disebutkan di dalam kitab al-Bukhari berkenaan dengan Abu Thalib mendapat keringanan siksa disebabkan doa Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Dalil Kedua
Nabi صلى الله عليه وسلم sendiri memuliakan maulidnya, dan bersyukur kepada Allah Ta’ala pada maulidnya, diatas nikmat dan kelebihan yang besar yang telah diberikan Allah ke atas wujudnya di alam semesta ini, yang membawa kebahagiaan pula kepada segala yang maujud diatas mukabumi ini.
Baginda صلى الله عليه وسلم memuliakan maulidnya juga dengan berpuasa. Hal ini diterangkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah:
أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الإِثْنَيْنِ، فَقَالَ: فِيْهِ وُلِدْتُ، وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ (رواه الإمام مسلم في الصحيح في كتاب الصيام)
Artinya: Nabi صلى الله عليه وسلم pernah ditanya akan sebab baginda berpuasa pada hari Itsnin. Baginda menjawab: Pada hari itu aku diputerakan, dan pada hari itu juga wahyu turun kepadaku.” (Hadits riwayat Muslim; Bab Puasa)(2)
Ini jelas menunjukkan bahawa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah menyambut maulidnya. Cuma bentuknya sahaja berlainan, namum haqiqatnya sama,