Kamis, 01 Juni 2017

Akhlak mulia dan kerendahan diri imam Hasan Al basri

(((((Bagian ke 1))))

TENTANG AKHLAK MULIA


Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda :
ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻷﺩﺏ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﺘﻌﻠﻢ ﺍﻟﻌﻠﻢ
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab?
Jawabnya adalah :
ﺑﺎﻷﺩﺏ ﺗﻔﻬﻢ ﺍﻟﻌﻠﻢ
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya dianugerahi akhlak yang mulia,
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻫْﺪِﻧِﻰ ﻷَﺣْﺴَﻦِ ﺍﻷَﺧْﻼَﻕِ ﻻَ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﻷَﺣْﺴَﻨِﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﻭَﺍﺻْﺮِﻑْ ﻋَﻨِّﻰ ﺳَﻴِّﺌَﻬَﺎ ﻻَ ﻳَﺼْﺮِﻑُ ﻋَﻨِّﻰ ﺳَﻴِّﺌَﻬَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ
“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta.
[artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771)


((((Bagian ke 2))))



Bukan berarti aku orang yang
terbaik di
antara kalian…”

# Al-Imam Hasan Al-
Bashri rahimahullah berkata :

“Wahai manusia, sesungguhnya
aku tengah menasihati kalian,
dan bukan berarti aku orang
yang terbaik di antara kalian,
bukan pula orang yang paling
shalih di antara kalian. Sungguh,
akupun telah banyak
melampaui batas terhadap diriku.
Aku tidak sanggup
mengekangnya dengan
sempurna, tidak pula
membawanya sesuai dengan
kewajiban dalam menaati Rabb-
nya. Andaikata seorang muslim
tidak memberi nasihat kepada
saudaranya kecuali setelah
dirinya menjadi orang yang
sempurna, niscaya tidak akan
ada para pemberi nasihat. Akan
menjadi sedikit jumlah orang
yang mau memberi peringatan
dan tidak akan ada orang-orang
yang berdakwah di jalan Allah
‘Azza wa Jalla, tidak ada yang
mengajak untuk taat kepada-Nya,
tidak pula melarang dari
memaksiati-Nya. Namun dengan
berkumpulnya ulama dan kaum
mukminin, sebagian
memperingatkan kepada
sebagian yang lain, niscaya hati-
hati orang-orang yang bertakwa
akan hidup dan mendapat
peringatan dari kelalaian serta
aman dari lupa dan kekhilafan.
Maka terus meneruslah berada
pada majelis-majelis dzikir
(majelis ilmu), semoga Allah
‘Azza wa Jalla mengampuni
kalian. Bisa jadi ada satu kata
yang terdengar dan kata itu
merendahkan diri kita namun
sangat bermanfaat bagi kita.
Bertaqwalah kalian semua
kepada Allah ‘Azza wa Jalla
dengan sebenar-benarnya taqwa
dan janganlah kalian mati kecuali
dalam keadaan muslim.”

Di kutip dari fb uais al qarrani
Tulisan
28 April 2014 pukul 2:53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar